Derita Fikri Perleketan Usus Ancam Nyawa, Keluarga Mohon Uluran Tangan | SorotNTB
Cari Berita

Iklan 970x90 px

Derita Fikri Perleketan Usus Ancam Nyawa, Keluarga Mohon Uluran Tangan | SorotNTB

Minggu, 05 April 2026

Fikri bersama sang Ibu

Mataram, SorotNTB.com
– Di tengah sunyi ruang perawatan, seorang pemuda asal Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, tengah bertaruh dengan rasa sakit yang tak kunjung usai. Fikri, namanya. Tubuhnya lemah, namun harapan untuk sembuh masih terus ia genggam, meski tipis.



Awalnya, Fikri hanya menjalani operasi usus buntu seperti pasien pada umumnya. Namun takdir berkata lain. Pasca operasi, kondisi kesehatannya justru memburuk. Ia kini harus menghadapi kenyataan pahit: perleketan usus (adhesi), sebuah kondisi berbahaya di mana bagian usus saling menempel dan berisiko menyebabkan penyumbatan yang dapat merenggut nyawa.

Di ranjang rumah sakit, Fikri hanya bisa menahan sakit yang datang silih berganti. Setiap detik terasa begitu panjang, sementara waktu terus berjalan tanpa kepastian.



“Setelah operasi pertama, kondisinya tidak membaik. Dokter menyarankan harus segera operasi ulang, kalau tidak bisa semakin parah,” tutur Awan Tambora dengan suara lirih, menahan haru.



Operasi lanjutan kini menjadi satu-satunya harapan agar Fikri bisa bertahan. Namun di balik itu, ada kenyataan yang tak kalah beratketerbatasan biaya. Keluarga yang sederhana kini dihadapkan pada pilihan sulit antara harapan hidup dan kemampuan ekonomi.



Dengan penuh harap, keluarga akhirnya membuka pintu bantuan. Mereka mengetuk hati para dermawan, memohon uluran tangan demi menyelamatkan nyawa Fikri.



“Kami hanya bisa berharap. Bantuan sekecil apapun sangat berarti untuk kesembuhan Fikri,” tambahnya, dengan mata berkaca-kaca.



Bagi siapa saja yang tergerak untuk membantu, donasi dapat disalurkan melalui:

Bank BRI: 464401033546535 a.n. M. Rusdin

atau menghubungi 0813-5365-3395.

Kini, Fikri masih terbaring, menunggu keajaiban datang. Doa dan kepedulian dari sesama menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa menguatkannya melewati masa kritis ini.



Karena bagi Fikri, setiap bantuan bukan sekadar angka—melainkan harapan untuk kembali hidup. (Red)